Cipta Puisi

Artikel

Sebelum memciptakan puisi untuk di-perlombakan pada acara FLASH kali ini, kami mohon kepada para peserta untuk membaca artikel-artikel yang telah kami sediakan terlebih dahulu.

Ada 5 macam artikel yang dapat teman-teman jadikan sebagai landasan untuk menciptakan puisi barunya, kami sangat menantikan puisi-puisi puitis ciptaan generasi baru bangsa kita tercinta ini.
Jikalau ingin men-download file PDF dari artikel-artikel tersebut klik link ini, lalu klik tombol download di bagian atas-kanan.

Berikut adalah beberapa artikel yang dapat dipilih oleh peserta untuk dijadikan sebagai landasan penciptaan puisi barunya:

ARTIKEL ke-1

Kopi Arabika, Mutiara hitam dari Tanah Gayo yang Mendunia

oleh Junaidi Hanafiah

Dataran Tinggi Gayo yang terletak di Provinsi Aceh merupakan daerah perbukitan dan lembah. Wilayah yang berada di atas 1.250 meter diatas permukaan laut (m dpl) ini memiliki mutiara mendunia, yang selalu dicari banyak orang.Mutiara tersebut bernama Kopi Arabika, yang telah menghidupi sebagian besar masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Mulai dari petani, pekerja, pengumpul, hingga karyawan perusahaan kopi, menggantungkan hidup dari biji yang telah ratusan tahun dikembangkan di Gayo ini.

Kopi Arabika Gayo semakin diburu pengusaha berbagai negara karena menyediakan semua cita rasa kopi arabica dunia. Kopi jenis ini yang tumbuh di Amerika tengah (Meksiko, Guatemala, Costa Rica, Dominica, Jamaica) dengan cita rasa kacang (nutty) sedikit getir (dirty/herby) dan sedikit berasa tanah (like Earty) dapat dijumpai di sebagian wilayah dataran tinggi Gayo.Tidak hanya itu, cita rasa kopi arabika yang tumbuh di Amerika selatan (Kolombia dan Brasil), kopi afrika (Kenya, Ethiopia, Yaman, dan Tanzania), kopi arabika yang tumbuh di samudra pasifik bagian selatan dan India dan kopi yang tumbuh di Indonesia, juga ditemukan di dataran tinggi Gayo.Karena cita rasanya yang sangat istimewa, kopi arabika organik kualitas terbaik dunia ini, mulai di ekspor ke berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Kanada dan berbagai negara lain. “Namun, tidak ada pengusaha atau pabrik kopi besar di Indonesia yang membeli Kopi Gayo. Hanya beberapa restoran yang memesan kopi dari tempat kami,” sebut Takim, salah seorang pengusaha kopi di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, pekan ini.

Lain halnya pengakuan salah seorang pekerja pabrik kopi di Kabupaten Aceh Tengah, Suhendra. Menurutnya, pengusaha kopi dari di Indonesia lebih memilih membeli kopi busuk yang tidak dijual oleh pengusaha kopi asal Gayo keluar negeri.

“Saya juga kadang-kadang bingung, pengusaha luar negeri minta dikirimkan kopi terbaik. Sementara pengusaha kita sendiri malah minta kopi busuk yang kemudian dijual kembali,” ujar Suhendra.

Karena cita rasanya yang sangat istimewa, kopi arabika organik kualitas terbaik dunia ini, mulai di ekspor ke berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Kanada dan berbagai negara lain. “Namun, tidak ada pengusaha atau pabrik kopi besar di Indonesia yang membeli Kopi Gayo. Hanya beberapa restoran yang memesan kopi dari tempat kami,” sebut Takim, salah seorang pengusaha kopi di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, pekan ini.

Lain halnya pengakuan salah seorang pekerja pabrik kopi di Kabupaten Aceh Tengah, Suhendra. Menurutnya, pengusaha kopi dari di Indonesia lebih memilih membeli kopi busuk yang tidak dijual oleh pengusaha kopi asal Gayo keluar negeri.

“Saya juga kadang-kadang bingung, pengusaha luar negeri minta dikirimkan kopi terbaik. Sementara pengusaha kita sendiri malah minta kopi busuk yang kemudian dijual kembali,” ujar Suhendra.

Tapi sebaliknya dengan perkembangan di Aceh saat ini, ribuan warung kopi bersaing untuk menarik pengunjung. Mereka menyajikan kopi dengan kualitas terbaik meski harganya lebih mahal. “Kopi Arabica Gayo misalnya, meski dijual satu gelas seharga Rp10.000, namun penikmat kopi ini semakin banyak di Aceh. Penikmat kopi sudah memilih cita rasa ketimbang harga,” tambah Suhendra.Kopi Arabika terbaik ini, sangat bergantung pada hutan yang alami. Jika iklim semakin panas karena kerusakan hutan, diyakini kualitas kopi akan menurun. Bahkan, diperkirakan tanaman kopi akan mati karena suhu cuaca yang tinggi.Untuk menghindari pengrusakan hutan yang berpengaruh pada pertumbuhan batang kopi, beberapa pengusaha kopi telah melarang petani membuka hutan untuk kebun kopi. Bahkan, ada pengusaha kopi yang telah mengumumkan tidak akan membeli kopi yang ditanam di dalam hutan lindung.

“Kami telah memutuskan, tidak akan membeli kopi yang ditanam di hutan lindung. Selain menjaga kualitas Kopi Arabica Gayo agar tetap baik, aturan ini juga menjaga hutan tidak bertambah rusak,” sebut Owner Leuser Coffee, Danurfan.

 

ARTIKEL ke-2

Batik buatan Indonesia memimpin pasar dunia

oleh : Hedi Novianto

Sandang batik bukan cuma lazim dapat tempat di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengabarkan bahwa industri batik nasional berhasil menguasai pasar dunia pada 2017.Dalam siaran persnya, Kamis (17/5/2018), Kemenperin mengungkapkan batik sudah menjadi mesin penggerak ekonomi nasional. Nilai ekspor batik dan produk turunannya pada 2017 mencapai AS $58,46 juta dengan pasar tujuan Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

“Industri batik nasional memiliki daya saing komparatif dan kompetitif di pasar internasional,” tutur Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM), Gati Wibawaningsih.

Gati pun ingin industri batik nasional meningkatkan pangsa pasarnya di dunia. Meski menguasai pasar, pasar batik Indonesia di luar negeri belum mencapai 2 persen dari pasar produk pakaian jadi di dunia saat ini yang bernilai sekitar AS $442 miliar.Produk batik nasional sebenarnya masih potensial di dalam negeri dengan jumlah pangsa pasar mencapai 90 persen. Apalagi saat ada momen penting seperti Lebaran yang bisa meningkatkan penjualan batik hingga 15 persen (Kontan.co.id). Tidak heran para perajin baru mengincar pasar ekspor setelah ada sisa.Pemerintah pun akan proaktif membantu para perajin batik untuk mengekspor produknya, mumpung belum banyak saingan.

“Batik Indonesia tidak ada saingannya, karena khas. Tiongkok dan Malaysia tidak bisa buat yang seperti kita, berbeda batiknya,” kata Gati kepada Berita Satu, Selasa (15/5).

“Batik dari Tiongkok kebanyakan produk cetak dan motifnya kurang berkembang. Sementara itu, batik Malaysia sangat berbeda dengan Indonesia. “Batik sebenarnya cuma kita, tidak ada saingan. Malaysia coba-coba bikin batik, tapi mereka melukis, bukan membatik, beda sekali,” tambahnya.

Batik bisa menjadi bahan baku bagi industri pakaian jadi dunia, meski produk jadi batik pun tetap punya peminat di luar negeri. Itu sebabnya pemerintah akan meningkatkan kemampuan perajin batik di dalam negeri.Kemenperin antara lain juga bakal menerapkan standar produk (untuk ekspor), membantu pengadaan mesin dan peralatan produksi, serta menggelar ajang promosi melalui pameran di dalam dan luar negeri.Namun begitu, pemerintah tak akan mengubah prinsip industri padat karya dalam orientasi pasar ekspor.

“Industri batik kita didominasi oleh sektor IKM yang tersebar di 101 sentra seluruh wilayah Indonesia…total penyerapan tenaga kerjanya mencapai 15 ribu orang,” imbuh Gati.

Pernyataan Gati itu disampaikan saat membacakan sambutan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang berhalangan hadir dalam Pameran Batik Warisan Budaya XII di Plasa Pameran Industri, Jakarta, Selasa. Pameran yang digagas bersama Yayasan Batik Indonesia (YBI) ini menjadi ajang promosi para perajin batik dalam negeri.Tahun ini, pameran yang berakhir pada Jumat (18/5) malam ini mengangkat tema Cerah Ceria Pesona Batik Madura. Ada 48 perajin batik binaan YBI yang turut memamerkan produknya dan mayoritas menggunakan zat pewarna alami sehingga produk menjadi ramah lingkungan dan bernilai lebih tinggi.Kebetulan pasar dunia sangat peduli pada produk yang ramah lingkungan atau eco-product. Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin pun menjelaskan ada inovasi baru pewarnaan kain bernama “teknik ringkel” yang ditemukan Balai Kerajinan dan Batik (BBKB).

Kepala BPPI Kemenperin, Ngakan Timur Antara, menjelaskan bahwa teknik baru ini merupakan pengembangan dan penggabungan dua teknik; smock dan tritik jumputan.Teknik smock dilakukan seperti menjahit dan menyulam dengan tangan. Sedangkan teknik tritik jumputan adalah proses pewarnaan rintang dengan menggunakan bahan seperti tali atau benang sehingga bisa menampilkan corak tertentu.

“Prosesnya, kain dicelup atau diwarna, dan dibuka jahitannya. Setelah dibuSetelah dibuka akan menghasilkan motif-motif yang indah,” imbuhnya.

Menurut Ngakan, penamaan ringkel berasal dari sifat produk akhir==hasil kolaborasi teknik yang dilakukan tersebut. Ringkel dalam bahasa Jawa berarti tekstur berkerut.Karena teknik tersebut, BBKB yang berbasis di Yogyakarta telah menemukan 23 desain motif baru. Teknik ini mampu menghasilkan kain batik yang tahan luntur pada apapun dan punya daya tahan (awet).Ngakan menilai teknik ringkel cocok digunakan para pelaku IKM karena prosesnya sederhana dan tidak membutuhkan peralatan khusus. BBKB pun sudah melakukan pendampingan untuk menerapkan teknik ini di Banyumas (Jateng), Sleman (DI Yogyakarta), dan Sampang (Madura, Jatim).

“Sampai tahun 2017, BBKB telah melatih sebanyak 67 IKM,” pungkasnya.

 

ARTIKEL ke-3

Nomophobia: Candu Generasi Milenial akan smartphone

oleh :  Rizky

Teknologi seperti smartphone yang semakin berkembang dengan pesat menjadikan era informasi semakin mudah diakses. Muncul dan berkembangnya aplikasi seperti instant messenger, social network semakin memudahkan setiap orang untuk berkomunikasi, jarak kini bukanlah menjadi halangan. Selain untuk kemudahan akses, smartphone juga dapat memberikan rasa percaya diri bagi penggunanya, selain dengan model-model smartphone yang semakin stylish, aplikasi yang dapat diinstalasi didalamnya dapat membuat pengguna smartphone selalu update dengan berita-berita terkini. Dampak psikologis yang diakibatkan oleh penggunaan smartphone pada individu, kelompok dan masyarakat pada umumnya terkait dengan perubahan perilaku dan kebiasaan sebelum dan sesudah menggunakannya.

Nomofobia (bahasa Inggris: Nomophobia, no-mobile-phone phobia adalah suatu sindrom ketakutan jika tidak mempunyai telepon genggam (atau akses ke telepon genggam). Nomophobia (no-mobile-phone-phobia) adalah jenis fobia yang ditandai dengan ketakutan berlebih jika seseorang kehilangan atau tidak berada dekat dengan smartphone-nya. Orang yang mengalami nomophobia selalu hidup dalam kekhawatiran dan selalu cemas dalam meletakkan atau menyimpan smartphone miliknya, sehingga selalu membawanya kemanapun pergi. Istilah ini pertama kali muncul dalam suatu penelitian tahun 2010 di Britania Raya oleh YouGov yang meneliti tentang kegelisahan yang dialami di antara 2.163 pengguna telepon genggam. Studi tersebut menemukan bahwa 58% pria dan 47% wanita pengguna telepon genggam yang disurvei cenderung merasa tidak nyaman ketika mereka “kehilangan telepon genggam, kehabisan baterai atau pulsa, atau berada di luar jaringan”, dan 9% selebihnya merasa stres ketika telepon genggam mereka mati. Separuh di antara mereka mengatakan bahwa mereka gelisah karena tidak dapat berhubungan dengan teman atau keluarga mereka jika mereka tidak menggunakan telepon genggam mereka.

Dalam penggunaannya smartphone sangat membantu dalam berkomunikasi serta menjadi pendukung dalam melakukan aktivitas dengan aplikasi yang ada. Dengan smartphone saat ini orang dapat menjalin hubungan percakapan person-to-person dan sekaligus mengirim pesan. Beberapa orang memiliki kebiasaan menempatkan smartphone di meja agar mudah untuk dilihat dan jika interaksi percakapan secara tatap muka tidak cukup menarik, ada alternatif untuk mengalihkan perhatian. Ketergantungan pada perangkat bergerak ini berdampak pada kehidupan sosial penggunanya. Sebanyak 33% pengguna yang bekerja, mengecek smartphone untuk email dan pesan pada malam hari. Dalam penelitian yang dilakukan Oulasvirta ditemukan bahwa orang-orang mengecek smartphonenya sebanyak 34 kali sehari, bukan untuk keperluan memeriksa email atau menjalankan aplikasi yang lain, namun merupakan kebiasaan untuk menghindari rasa tidak nyaman. Penelitian lain menyebutkan, kebanyakan siswa memulai harinya dengan mengecek laman jejaring sosialnya. Rata-rata jejaring sosial diakses selama 5 jam per hari dengan menggunakan smartphone.

Fenomena nomophobia terjadi karena orang-orang saat ini cenderung asik dengan kehidupan dunia maya dan hanya sedikit perhatian terhadap dunia nyata. Komunikasi cenderung lebih sering terjadi melalui akun-akun media sosial dibanding dengan intensitas komunikasi secara langsung atau face to face. Perilaku ini seakan membuat mereka tidak begitu peduli dengan apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Tingkat kecanduan ini bisa disebabkan beberapa faktor antara lain, (1) faktor internal: yaitu faktor yang menyangkut karakteristik individu, bisa disebabkan kontrol diri yang rendah. (2) Faktor situasional: menyangkut situasi psikologis individu, rasa nyaman terhadap pemakaian ponsel dan alasan pelarian gangguan lain seperti stres dan rasa bosan. (3) Faktor eksternal: biasanya pengaruh media dalam memasarkan ponselnya, daya tarik yang dipromosikan dan konsisi lingkungan sehingga menimbulkan rasa ingin. (4) Faktor sosial: berkenaan dengan interaksi sosial dan menjebol batas waktu untuk berkomunikasi.

Nomophobia dapat berakibat fatal bagi si pengidap maupun orang-orang di sekitarnya, telah banyak kasus yang terjadi akibat nomophobia seperti yang terjadi di provinsi Balikpapan “Main HP, Tewas Seruduk Truk”. Kajadian maut  ini bermula saat korban Rahmad yang diketahui tinggal di Jalan Soekarno Hatta Km 20 Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara melaju ke arah Terminal Batu Ampar. Sesampainya di tempat kejadian perkara (TKP), Rahmad terlihat sedang bermain HP dan langsung menabrak truk yang sedang berhenti di sisi kiri jalan. Setelah terjadi tabrakan, warga langsung mencoba melarikan korban ke RSKD, namun karena mengalami luka yang cukup parah di bagian dada akhirnya korban meninggal dunia di dalam perjalanan ke rumah sakit. Kasus kecelakaan seperti ini, lanjut Afrian, benar-benar harus menjadi pelajaran bagi masyarakat agar saat berkendara tidak sambil bermain hp.

Ketika dorongan untuk melakukan hal itu mencapai puncaknya, kontrol dapat membantu individu mempertimbangkan tentang aspek, resiko dan norma sosial yang akan dihadapinya. Kontrol diri itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu aktivitas pengendalian tingkah laku untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah yang lebih positif.

Sadar dan kontrol diri adalah cara yang efektif untuk menekan itu, terlebih sebagai manusia kita akan kita akan selalu butuh dengan orang lain. Untuk itu mulai sadar lingkungan, pertahankan komunikasi secara nyata, hindari melarikan diri dengan ponsel, menghargai lawan bicara dengan tidak melihat ponsel secara konstan. Kita memang membutuhkan teknologi khusunya ponsel untuk kemudahan, namun  bukan berarti kita terisolasi dari dunia nyata dan tidak memperdulikan sekitar.

 

ARTIKEL ke-4

Generasi milenial yang Tetap Tak Kenal Sastra

Kalis Mardiasih – detikNews

Sastrawan muda Faisal Oddang bercerita tentang peserta seminar yang sama sekali tidak familiar ketika ia menyebut sekira duapuluhan nama sastrawan pilih tanding. Kata Oddang, ada satu peserta mengaku akrab dengan nama Tere Liye, tapi ketika Oddang bertanya judul buku milik Tere Liye mana yang pernah ia baca, mahasiswa itu pun terbata-bata mengaku bahwa ia sejujurnya hanya menyukai tulisan-tulisan di kiriman status Facebook akun Tere Liye.Cerita Oddang itu harusnya begitu menyentil dalam situasi dunia sastra yang sejak dulu sibuk berdebat soal politik sastra hingga kanon-kanon sastra. Di level praktis, politik sastra dan kanon sastra yang membicarakan sastra sebagai sebuah karya dengan beragam teknik penyajian, eksperimen gaya bahasa, juga misi muluk yang dipercaya akan membawa dampak adiluhung buat dunia itu tidak punya suara. Perkara yang sampai kepada orang biasa adalah selalu segala sesuatu yang bersifat mainstream alias budaya massa. Hari ini, budaya massa mewujud dalam rupa-rupa status dan topik terkini yang viral dalam sebuah jejaring dan spesifik pada hari tertentu.

Saya pernah mengalami kejadian serupa Oddang sewaktu mengisi sebuah acara pelatihan menulis di sebuah kampus. Kabar kurang menyenangkannya, mahasiswa yang sedang belajar menulis ketika itu adalah calon-calon guru. Mereka adalah sarjana pendidikan yang sudah mengabdi selama satu tahun pula di daerah terluar dan terpencil di Indonesia, tetapi ketika saya menyebut beberapa nama sastrawan Indonesia berikut judul buku mereka, persis seperti Oddang, tidak ada sahutan. Bahkan, tampak jelas pada air muka mereka semacam ekspresi “tidak terhubung” sama sekali dengan topik yang dibicarakan.Saya tidak piawai membicarakan sastra, tetapi saya pembaca yang percaya bahwa karya sastra yang lekat dengan istilah dulce et utile itu adalah salah satu jenis harapan yang membantu kita untuk membedakan hal baik dan buruk, juga mana hal indah dan semrawut. Wah, jangan bilang-bilang pada mereka yang saleh sebab berani-beraninya menyerupakan sastra dengan peran agama, ya!

Ada cerita yang lebih mengerikan lagi. Sekitar tahun 2014, sebuah kampus cukup ternama mengadakan seminar nasional bahasa dengan memanelkan tiga pemantik diskusi: Seno Gumira Ajidarma, Triyanto Triwikromo, dan satu orang lagi adalah seorang doktor bidang sastra pengajar di kampus terkait. Seno selalu menjadi sastrawan rendah hati dalam semua forum. Ia bilang bahwa ia jarang menulis kritik sastra, bukan karena tidak ada yang perlu dikritik, tetapi sebab ia selalu merasa kekurangan waktu membaca karya-karya sastra terbaik yang terbit dari seluruh dunia.

“Saya merasa sudah ngebut membaca. Tapi tetap saja, karya terbaik yang terbit dari seluruh dunia lebih cepat dari kecepatan membaca saya. Kadang saya sampai nggak bisa ngikutin dinamika yang ada di Indonesia sendiri.”

Tahun itu, Triyanto Triwikromo baru saja menerbitkan novel Surga Sungsang. Triyanto juga memaparkan sedikit jurnal ilmiahnya yang mengulas wacana perempuan dalam karya-karya Sastrawangi. Triyanto sama seperti Seno, tidak hanya mengajar di kelas, tetapi masih terus menyimak perkembangan sastra kontemporer di berbagai media selain menghasilkan karya-karya bagus yang selalu disegani dan dibicarakan banyak orang.Yang membuat saya gagal paham adalah justru pengakuan Pak Dosen yang konon presentasi makalah dalam seminar itu biar lekas jadi profesor. Ia kagok menyebut satu judul cerpen Seno, dan percaya diri menyatakan tidak mengikuti perkembangan sastra Indonesia sejak belasan tahun lalu. Jangan tanya apakah beliau ini menghasilkan karya di media massa atau tidak, lha wong mengikuti perkembangan bacaan-bacaan terbaru saja nggak, lho! Wah, padahal ketika itu saya datang seminar sebagai pembaca snob yang membawa buku Senja dan Cinta yang Berdarah, kumpulan cerpen Seno setebal bantal yang ketika itu baru saja terbit. Usai acara, saya pun minta tanda tangan dan berfoto dengan pencipta tokoh Sukab, juga Alina yang suka dikirimi sepotong senja itu. Maklum, namanya juga pembaca snob!

Setelah itu saya nggak berani membayangkan materi apa yang diajarkan oleh dosen-dosen sastra yang tidak lagi membaca sejak belasan tahun lalu di kelas. Saya ikut terbayang materi pelajaran bahasa Indonesia semasa sekolah yang diproduksi oleh rezim Orde Baru. Rezim yang membuat pengetahuan sastra beberapa kurun generasi menjadi begitu terbatas. Belajar bahasa di masa sekolah adalah mempelajari seperangkat aturan kebahasaan, tidak berbeda dengan rumus matematika atau ilmu alam yang rumit dan jarang mengesankan. Guru bahasa juga jarang menyebut (apalagi membicarakan) karya-karya kanon. Perjumpaan saya dengan karya ngepop seperti teenlit di perpustakaan tentu saja karena cover yang atraktif dan cerita yang dekat dengan emosi khas anak remaja.

Jadi, kembali lagi, seandainya saya masih menjadi mahasiswa baru yang ditanya Oddang dalam seminar di atas, saya pun tidak berbeda dengan peserta kebanyakan. Aduh, sedihnya!

Lho, tapi kan sudah lama kita tahu kalau sastra ini nggak penting-penting amat buat kehidupan di Indonesia. Kebutuhan manusia yang utama dan pertama tentu saja adalah makanan. Setelahnya, selain hunian, pakaian adalah rekreasi juga hiburan. Dua terakhir itu tergolong mewah buat warga biasa Indonesia. Rekreasi lebih sering diartikan sebagai mengunjungi tempat-tempat wisata yang ramai untuk melepaskan kepenatan setelah lelah bekerja. Hiburan, bisa didapatkan dari televisi dan gawai, yang kini berisi sumber-sumber hoax, mulai dari grup Whatsapp keluarga hingga grup Whatsapp alumni.

Baru-baru ini, muncul perspektif baru di dunia pariwisata alias rekreasi. Konon, tren AirBnB (marketplace airbed and breakfast asal Amerika Serikat) membuat siapa saja bisa menyewakan hunian, rumah bahkan sekadar satu kamar sebagai tempat penginapan bagi wisatawan domestik maupun turis asing. Tren itu mengakibatkan kegiatan piknik tidak lagi dimaknai mengunjungi kawasan-kawasan wisata yang terkenal, tetapi kini piknik yang sesungguhnya adalah mengenal penduduk lokal, berbaur dan tinggal bersama mereka. Tak heran, didukung dengan promosi mandiri via Instagram, banyak desa biasa kini mempromosikan diri sebagai desa wisata dengan tawaran paket kunjungan yang beragam, mulai dari paket budaya hingga paket wisata pertanian.

Cara pandang pendekatan sastra di sekolah punya banyak jalan untuk berbenah. Kita tidak akan membicarakan sastra kanon-kanonan atau mana yang lebih nyastra atau tidak. Kita hanya ingin memperkenalkan sastra sebagai dirinya sendiri, yakni sebuah usaha estetis bahasa yang ingin memberitahukan kita banyak hal. Kita bukan akan belajar sastra, tetapi rekreasi bersama sastra.

Anak-anak harus yakin bahwa ketika membaca novel mereka akan sampai di banyak daerah dan tempat di berbagai belahan dunia. Novel akan membuat mereka menerima informasi baru tentang budaya, tradisi yang asing, hingga nama-nama makanan atau tumbuhan yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Sebuah konflik yang padat pada satu cerita pendek yang baik akan merangsang pemikiran mereka akan karakter-karakter manusia beserta permasalahannya yang beragam. Belajar kemanusiaan adalah mengenali bahwa perbedaan itu mutlak, wajar dan biasa saja. Belajar mengenali perbedaan adalah belajar logika pemecahan permasalahan secara utuh.Sensitivitas rumus-rumus kebahasaan yang jadi soal dalam ujian tertulis itu, sesungguhnya bisa muncul bersamaan dengan rasa terikat mereka pada karya.

Sejak dulu, kita sudah tidak bisa berharap pada kurikulum yang tidak sejalan antara tujuan pembelajaran dengan apa-apa yang mesti diajarkan. Akan tetapi, teknologi mempermudah guru-guru bahasa untuk mengunduh karya sebagai bahan ajar. Pilihannya tidak terbatas, mulai dari Pramoedya, Umar Kayam, YB Mangunwijaya atau sastrawan-sastrawan muda pilih tanding masa kini bisa didapat dengan mudah. Bekal rekreasinya mudah dan murah, tinggal kita mau berangkat atau tidak.

 

ARTIKEL ke-5

Menatap Potret Hutan Indonesia

Hanni Sofia -ANTARA

Jakarta (Antara Kalbar) – Jika sebatang pohon saja memiliki cerita sejarahnya sendiri, maka hutan memiliki nilai filosofis yang lebih tinggi yakni sebagai paru-paru dunia.

Namun, paru-paru itu bisa saja rusak jika pemeliharaannya tidak lebih baik ketimbang upaya yang membahayakannya.

Boleh jadi itu yang kini menjadi potret nyata hutan di Indonesia ketika nilai filosofisnya terus mengalami penurunan.

Pengelolaan hutan Indonesia selama ini kurang memperhatikan hakekat yang terkandung pada filosofinya sehingga kelestarian lingkungan hidup menjadi terganggu akibatnya hutan di Indonesia mengalami degradasi yang sangat tajam.

Salah satu yang kini sedang terjadi di antaranya ancaman kerusakan hutan di Pulau Sumatra yang terus meningkat karena adanya pembangunan ruas jalan di berbagai provinsi.

“Kawasan hutan di Sumatra, seperti Riau, Jambi, dan Aceh terus mendapat tekanan dan ancaman akibat pembangunan ruas jalan,” kata peneliti di Universitas James Cook, Cairns, Australia Profesor William Laurence.

Sementara di wilayah lain akibat adanya Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) serta terjadinya penebangan liar baik kayu, areal hutan di sejumlah wilayah di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) semakin memprihatinkan.

Fakta yang lebih memprihatinkan tatkala Pemerintah Sulawesi Tengah mengklaim areal hutan kritis di daerah itu hingga kini mencapai 600 ribu hektare dari total luas kawasan hutan yang ada sekarang ini mencapai 4,3 juta hektare.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulteng Nahardi mengatakan kawasan hutan di daerahnya setiap tahun masih mengalami deforestasi dan degradasi.

“Hutan kritis seluas itu tersebar di 10 kabupaten dan kota di Provinsi Sulteng dan terbesar terdapat di Kabupaten Donggala yang mencapai 147.504 hektare, disusul Kabupaten Poso 118.893 hektare, dan Kabupaten Parigi Moutong 99.997 hektare,” katanya.

Di sisi lain, Indonesia harus menghadapi kenyataan pahit tentang hutan primer atau asli di Taman Nasional Kutai, yang berada di wilayah tiga kabupaten/kota di Kalimantan Timur, kini hanya tersisa 25 persen dari luasan kawasan itu yang mencapai 198.629 hektar.

“Berdasarkan peta tutupan lahan Taman nasional Kutai luasan hutan primer sejumlah 8.860 hektar sedangkan hutan sekunder sejumlah 137.802 hektar,” ungkap Kepala Balai TNK, Erli Sukrismanto.

Selain akibat kebakaran yang menghanguskan sekitar 75 persen kawasan TNK pada 1997-1998, perambahan dan pencurian kayu menjadi penyebab terdegradasinya atau menurunnya kualitas hutan tropis rendah itu.

Provinsi Bangka Belitung menyimpan cerita lain, ketika hutannya yang seluas 565.047 hektare belum jelas peruntukannya hingga kini.

Seluas 16.869 hektare hutan lindung di Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Bangka Belitung (Babel), kritis karena penambangan bijih timah ilegal dan ladang berpindah-pindah.

“Penambangan bijih timah yang dilakukan warga dan perusahaan swasta sebagai pemicu utama rusaknya hutan lindung,” ujar Kabid Kehutanan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bangka Selatan, Evan Sandy Maulana.

Ia menjelaskan, dari total hutan lindung kritis tersebut dengan rincian 5.984 hektare hutan sangat kritis dan 10.885 hektare hutan kritis.

Pengelolaan hutan yang kurang ramah pada akhirnya membawa dampak berat berupa kerugian yang pahit.

Selain fakta bahwa Indonesia pada akhirnya merebut rekor dunia kebakaran hutan mengalahkan Brazil di mana pada 1963 Indonesia mengalami kebakaran hutan seluas 2 juta ha, berlanjut pada 1982-1983 seluas 3,5 juta ha, dan pada 1997-1998 seluas 11,7 juta Ha.

Sebagai dampaknya, polusi yang mengakibatkan pemanasan global karena kebakaran hutan di Indonesia pun tidak main-main dengan kurang lebih 1,7 juta karbon terlepas ke atmosfir, setara dengan 26 persen total emisi karbon dunia yang dihasilkan bahan bakar fosil pertahunnya.

Padahal hutan merupakan kunci mendasar dan utama untuk penyelamatan udara dan air sebagai sumber kehidupan manusia.

“Kerusakan hutan sama artinya dengan kerusakan air hingga menimbulkan bencana yang tentunya sangat merugikan manusia,” kata pakar lingkungan dari Universitas Riau Tengku Ariful Amri juga menjabat sebagai Direktur Rona Lingkungan Hidup Universitas Riau itu.

Penderitaan dan kerugian yang dirasakan berulang-ulang setiap tahun akibat kerusakan hutan disadari jelas bukan sesuatu yang ringan.

Dari keadaan ini, semua pihak sudah saatnya terlibat dalam program pembenahan lingkungan hutan berupa tindakan nyata sebagai upaya penanggulangan bencana dan kerugian masyarakat.

Masyarakat sekitar hutan juga perlu mendapatkan pembinaan untuk mencapai kesadaran mengenai pentingnya memelihara lingkungan hidup yang hijau, bersih, dan indah.

Hutan yang hijau adalah mimpi Indonesia yang lebih baik. Oleh karena itu seluruh pemangku kepentingan tidak kemudian diam saja mengejar harapan mulia itu.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah misalnya memberdayakan masyarakat sekitar dan dalam kawasan hutan untuk memfokuskan pada perbaikan tata kelola kawasan hutan melalu penguatan kelembagaan Kesatuan Pengolahan Hutan (KPH).

“Keberadaan lembaga KPH sangat penting karena dianggap bisa mengidentifikasi secara detail kondisi masyarakat di sekitar hutan,” kata Kepala Dinas Kehutanan Sulteng Nahardi.

Program kehutanan yang berbasis masyarakat antara lain program hutan tanaman rakyat (HTR) yang akan memberikan akses pengelolaan hutan kepada masyarakat, bukan kepada pengusaha.

Masyarakat diberi akses mengelola hutan dengan menanam pohon yang bernilai ekonomi tinggi. Misalnya, masyarakat diajak menanam tanaman karet, dimana dalam waktu beberapa tahun sudah menyadap.

Program lainnya melalui skema hutan desa dan hutan kemasyarakatan. Skema hutan desa di Sulteng telah dilakukan sejak 2011 berlokasi di Desa Namo, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi seluas 490 hektar yang telah ditetapkan pada tahun 2011 oleh Menteri Kehutanan.

“Keberadaan hutan desa dan hutan kemasyarakatan sebetulnya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat setempat selain meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat dengan memanfaatkan sumberdaya hutan secara optimal,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, demi hutan Indonesia yang lebih baik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Banten berupaya mengoptimalkan program Kebun Bibit Rakyat (KBR) dalam upaya penyelamatan kawasan hutan melalui rehabilitasi dan konservasi.

“Lahan kritis di Banten saat ini sedikit berkurang dari sebelumnya sekitar 117 ribu hektare, berkurang menjadi 104 ribu hektare lagi. Upaya yang kami lakukan diantaranya mengoptimalkan program Kebun Bibit Rakyat atau KBR,” kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Banten Muhammad Yanuar.

Ia mengatakan, kebun bibit rakyat tersebut diharapkan bisa mengurangi lahan kritis di Banten yang saat ini masih tersisa sekitar 104 ribu hektare, sebagian besar berada di kawasan hutan milik masyarakat dan sisanya berada di dalam kawasan hutan.

Selain mengembangkan KBR, upaya lain yang dilakukan melalui pengembangan hutan rakyat, kampung konservasi serta program-program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan perusahaan-perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup dan kawasan hutan.

“Kita perlu terus peduli terhadap penyelamatan hutan, karena kawasan hutan semakin berkurang,” kata Muhamad Yanuar.

Berbagai program penyelamatan hutan itu penting di tengah kerinduan akan hijaunya paru-paru dunia di Indonesia sebagai penyangga napas dunia di sepanjang sabuk khatulistiwa.

 

Selempang emas yang menjalar di tubuh bukanlah arti dari sebuah kesuksesan, namun kesuksesan itu merupakan perasaan yang anda dapatkan saat anda merasa puas akan hasil yang anda dapatkan

Untuk informasi lebih lanjut hubungi Contact Person kami :

  • Femus Mahatir (085277289966)
  • Raisa Yasykura (081283452169)